Mendengarkan Anak untuk Memahami Pikirannya
Mendengarkan Anak untuk Memahami Pikirannya ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Rabiul Awal 1448 H / 17 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Mendengarkan Anak untuk Memahami Pikirannya
Orang tua tidak seharusnya hanya mengeluhkan anak yang lebih suka duduk dan bercerita bersama teman-temannya daripada bersama orang tua. Ketika anak lebih suka bercerita kepada teman yang baru dikenalnya beberapa hari, beberapa bulan, atau beberapa tahun daripada kepada orang tuanya, orang tua perlu memikirkan penyebabnya.
Tidak mungkin suatu keadaan terjadi tanpa sebab. Anak yang lebih memilih bercerita kepada teman daripada kepada orang tua tentu memiliki alasan. Orang tua perlu memahami bahwa setiap manusia membutuhkan untuk didengar dan dipahami, termasuk anak-anak.
Orang dewasa yang akalnya telah lengkap pun ingin didengar dan dipahami. Terlebih lagi anak kecil yang akalnya belum lengkap dan belum sempurna.
Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang berkomunikasi dengan anak hanya satu arah. Orang tua berbicara, sedangkan anak hanya diminta mendengarkan. Ketika anak hendak berbicara, ia justru dilarang dengan alasan belum dewasa. Akibatnya, anak seolah-olah tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.
Pola pendidikan seperti itu tidak sesuai dengan teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berbicara. Bahkan, beliau meminta mereka bercerita. Beliau bukan hanya memberi kesempatan, melainkan juga mempersilakan anak-anak untuk mengungkapkan cerita mereka.
Anak perlu diberi kesempatan bercerita agar merasa dihargai oleh keluarganya. Perasaan dihargai akan membuat seseorang merasa betah. Selain itu, dengan mendengarkan cerita anak, orang tua dapat memahami cara berpikirnya dan mengetahui alasan di balik perbuatannya.
Terdapat sebuah kejadian yang sangat saya ingat dan membuat sedih ketika mengingatnya. Suatu saat, saya naik kereta bersama keluarga. Di tengah perjalanan, anak saya yang paling kecil ingin ke kamar mandi. Di dalam kereta memang tersedia kamar mandi. Karena masih kecil, ia saya temani dan saya tunggu di luar.
Setelah selesai, saya tidak langsung memperhatikan keadaan anak tersebut. Begitu ia keluar dari pintu kamar mandi, saya memegang tangannya karena kereta bergoyang-goyang dan khawatir ia jatuh. Saya kemudian berjalan cepat, sementara anak saya berada di belakang.
Saya tidak melihat bahwa langkah anak saya berjalan pelan. Saya terus berjalan cepat tanpa memeriksa keadaan di belakang.
Sesampainya di tempat duduk, saya menoleh dan merasa sangat sedih. Ternyata, sepanjang berjalan di gerbong, anak saya berusaha memegang celananya dengan satu tangan. Berjalan sambil melakukan hal itu tentu sulit. Setelah menyadarinya, saya langsung meminta maaf kepada anak karena tidak memperhatikan keadaannya.
Memahami Alasan Anak dengan Mendengarkan Ceritanya
Terkadang, orang tua tidak mengetahui alasan anak melakukan sesuatu. Anak yang berjalan pelan, misalnya, mungkin memiliki alasan tertentu yang tidak diketahui orang tua. Karena itu, orang tua perlu mendengarkan anak berbicara agar memahami pertimbangan dan alasannya.
Bisa jadi anak memiliki alasan yang logis dan dapat diterima. Kalaupun alasannya belum logis, hal itu wajar karena ia masih kecil. Setidaknya, ketika diberi kesempatan untuk bercerita, anak akan merasa dihargai. Anak yang merasa dihargai akan belajar menghargai orang lain.
Seseorang tidak akan menghargai orang lain jika dirinya tidak dihargai. Hal ini sering terlihat pada anak-anak punk yang tinggal di pinggir jalan atau emperan toko, meskipun mereka memiliki rumah dan orang tua. Bisa jadi, salah satu sebabnya adalah mereka tidak merasa dihargai di rumah.
Keberadaan mereka mungkin tidak dianggap oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, bahkan dengan hobi, atau sibuk melakukan dosa dan maksiat sehingga mengabaikan anak-anaknya. Perasaan dihargai oleh orang tua sangat penting agar anak betah di rumah dan mau menghargai orang tuanya.
Ketika anak berbicara dengan penuh semangat selama lima atau sepuluh menit, tetapi orang tua sibuk dengan telepon genggam, lalu bertanya, “Bagaimana, Bi?” Ternyata bapaknya malah menjawab, “Apa?”
Anak dapat merasa tidak dianggap dan tidak dihargai. Kelak, ketika orang tua berbicara, anak mungkin melakukan hal yang sama dengan melihat telepon genggam. Ketika orang tua tidak menghargai anak, anak pun dapat tidak menghargai orang tuanya. Al-jaza’u min jinsil ‘amal: balasan sesuai dengan perbuatan.
Meminta Anak untuk Bercerita
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempraktikkan cara mendengarkan anak untuk memahami pikirannya. Salah satunya dengan meminta anak untuk bercerita.
Jabir radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa ketika kaum Muhajirin baru pulang dari Habasyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menemui mereka. Sebelumnya, beliau memang meminta sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah sebelum beliau berhijrah ke Madinah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka tentang kejadian unik yang mereka alami selama berada di Habasyah. Anak-anak muda yang ikut berhijrah kemudian menceritakan kejadian tersebut.
Mereka bercerita bahwa ketika sedang duduk, mereka melihat seorang nenek membawa kendi berisi air di atas kepalanya. Tiba-tiba, seorang pemuda mendorong nenek itu hingga terjatuh dan kendinya pecah. Setelah bangkit, nenek tersebut berkata bahwa mereka akan bertemu di akhirat dan melihat balasan yang Allah berikan kepada masing-masing pihak.
Setelah mendengar cerita itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa wanita tersebut benar. Beliau menjelaskan bahwa suatu kaum tidak akan disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila keadilan tidak ditegakkan ketika orang kuat mendzalimi orang lemah.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani. Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta anak-anak muda untuk bercerita dan tidak langsung memberikan nasihat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terlebih dahulu mendengarkan cerita tentang seorang nenek yang didzalimi oleh seorang pemuda. Setelah itu, beliau menyampaikan nasihat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Suatu masyarakat tidak akan disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila kedzaliman terjadi dan orang yang dzalim tidak diberi hukuman yang setimpal.
Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bercerita sebelum menyampaikan nasihat. Cara ini menunjukkan bahwa komunikasi beliau dengan anak-anak berlangsung dua arah.
Menanyakan Kegiatan Anak
Sebagian orang tua pada zaman ini tidak mau melakukan komunikasi dua arah. Padahal, ketika anak pulang dari sekolah, orang tua seharusnya menyapanya dan menanyakan pelajaran, teman-teman, guru, serta kejadian yang dialaminya dalam perjalanan.
Orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita dan celotehan anak. Anak mungkin bercerita bahwa ada temannya yang usil, mengambil pecinya, lalu melemparkannya untuk bermain. Ia juga mungkin menceritakan temannya yang mengejek atau merendahkannya. Orang tua perlu mendengarkan cerita tersebut dan menanyakan siapa pelakunya serta bagaimana sikap anak menghadapinya.
Orang tua tidak boleh menunggu laporan dari guru di sekolah. Guru mengurus puluhan, bahkan ratusan anak. Sangat mungkin ada kejadian yang terlewat atau tidak disampaikan kepada orang tua. Karena itu, orang tua perlu bersikap proaktif.
Bersikap proaktif berbeda dengan menginterogasi. Jika anak diminta bercerita dengan cara seperti polisi menginterogasi penjahat, ia tidak akan merasa nyaman. Anak tidak akan leluasa bercerita ketika diminta duduk tegak, meletakkan tangan di atas meja, lalu diawasi dengan tatapan tajam. Ia justru bisa menangis, bukan bercerita.
Ketika meminta anak bercerita, orang tua perlu menciptakan suasana yang nyaman, menyenangkan, dan rileks. Suasana tersebut tidak harus formal. Saat sedang makan, misalnya, orang tua dapat menanyakan hal-hal yang tidak disukai anak dari sikap ayah dan ibunya.
Orang tua juga perlu menanyakan perasaan anak terhadap mereka. Namun, ketika mengajukan pertanyaan, orang tua harus siap mendengarkan jawabannya, termasuk jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai ayah dan ibunya.
Jika anak mengatakan tidak suka, orang tua perlu melanjutkan dengan pertanyaan tentang hal yang tidak disukainya. Misalnya, anak tidak menyukai cara orang tua menyuruhnya belajar karena orang tua melakukannya dengan marah-marah, mata melotot, wajah memerah, dan suara keras.
Masalahnya bukan pada perintah untuk belajar, melainkan pada cara menyampaikannya. Karena itu, orang tua perlu mendengarkan apa yang diungkapkan anak.
Menyelami Pikiran Anak
Hal kedua yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah menyelami pikiran anak, yaitu memahami dan mendalami alam pikirannya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya mendengarkan, tetapi mendengarkan untuk memahami.
Contohnya adalah kisah ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba datang seorang pemuda dan meminta izin untuk berzina. Pemuda itu menyampaikan permintaannya dari kejauhan dengan suara keras.
“Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berusaha menyelami pikiran pemuda tersebut. Beliau berusaha memahami alasan pemuda itu ingin berzina dan meminta izin di hadapan banyak orang. Pemuda itu memiliki syubhat, yaitu kerancuan dalam memahami agama. Ia berpikir bahwa zina yang hukumnya haram dapat berubah menjadi halal jika memperoleh izin dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pemikiran tersebut merupakan kekeliruan dalam memahami hukum agama.
Karena mengetahui adanya syubhat dalam pikiran pemuda itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak memarahinya, menghardik, atau membentaknya. Para sahabat sempat menegur pemuda tersebut karena menganggap ucapannya tidak sopan dan menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa malu.
“Mendekatlah.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempersilakan pemuda itu mendekat. Beliau kemudian mengajaknya berdiskusi dan melakukan komunikasi dua arah.
“Apakah kamu rela jika seseorang berzina dengan ibumu? Apakah kamu rela jika seseorang berzina dengan saudara perempuanmu, kakak atau adikmu, serta bibimu? Jika kelak kamu memiliki anak perempuan, apakah kamu rela jika seseorang berzina dengannya?”
Mendengarkan Anak sebelum Menghakimi
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak anak yang memiliki pemahaman keliru untuk berdiskusi hingga ia memahami bahwa zina haram dalam kondisi apa pun. Zina merupakan kejahatan yang dapat melukai hati banyak orang.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajaknya membayangkan perasaan orang tua, kakak, adik, dan kerabat perempuan yang dizinai. Orang yang memiliki syubhat tidak dihujat, tetapi diajak berpikir.
Itulah tujuan mendengarkan cerita anak. Ketika anak menjelaskan alasan tindakannya, orang tua dapat menentukan cara menangani masalah dengan tepat.
Misalnya, orang tua mendapat laporan bahwa anaknya memukul teman hingga berdarah. Orang tua tidak semestinya langsung menghakimi anak ketika ia baru pulang sekolah.
Anak sebaiknya dipersilakan masuk, diminta makan, dan diberi suasana yang nyaman. Setelah itu, orang tua mengajaknya bercerita. Bukan menunggu di depan pintu lalu langsung menuduh, memarahi, atau melarangnya masuk rumah.
Orang tua dapat memulai percakapan dengan menanyakan keadaan belajar anak dan kejadian yang dialaminya di sekolah. Setelah mulai terbuka, anak mungkin menjelaskan bahwa ia dipukul oleh temannya.
Dari cerita anak, misalnya diketahui bahwa temannya meminta contekan. Anak menolak karena diajari untuk jujur. Temannya tidak terima lalu memukulnya. Ketika menangkis pukulan itu, tangkisannya mengenai temannya dengan keras.
Setelah mendengarkan cerita secara utuh, terlihat bahwa pihak yang pertama kali bersalah adalah teman anak tersebut. Inilah fungsi mendengarkan anak.
Orang tua tidak boleh langsung menghakimi. Bayangkan bagaimana perasaan anak yang telah mempertahankan kejujuran yang diajarkan orang tuanya dan berusaha membela diri karena didzalimi? Jika setibanya di rumah ia justru dimarahi dan dilarang masuk, ia akan merasa sangat kecewa. Jika hal itu berulang, tumpukan kekecewaan dapat membahayakan kondisi psikologisnya.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Mendengarkan Anak untuk Memahami Pikirannya” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56476-mendengarkan-anak-untuk-memahami-pikirannya/